Politheisme

Om Swastiastu,

Apakah monoteisme lebih tinggi dari politeisme atau panteisme? Mereka yang menganut agama-agama Semitik pasti dengan tegas menjawab : Ya. Sekalipun sebetulnya Kristen tidak dapat dikatakan monoteis karena mereka memuja Trinitas, tiga Tuhan pribadi, yaitu Roh Kudus, Allah Bapa dan Allah Anak. Agama Yahudi juga tidak dapat dikatakan monoteis murni, karena pada awal Parjanjian Lama, mereka masih menyembah banyak dewa. Dalam Genesis (Kitab Kejadian) disebutkan ketika memutuskan untuk menciptakan manusia para Allah mengadakan sidang.

Bila pertanyaan di atas diajukan kepada orang-orang Hindu, kecendrungannya mereka juga akan menjawab : Ya. Hal ini terlihat dari nada pertanyaan dan jawaban yang disampaikan dalam diskusi di HDNet, misalnya : apakah Siva Tuhan atau Dewa, apakah Betara, mengapa tidak langsung memuja Tuhan dll. Ini mungkin akibat dari propaganda yang kita terima, dan kita telah menerimanya tanpa sikap kritis. Tapi apakah betul demikian? Di bawah ini saya postingkan satu tulisan yang mudah-mudahan bisa memberi sudut pandang lain.

Om santi, santi, santi Om
NPP

KEMBALI KE PANTEISME

Abdullah Maskharah dalam tulisannya “Dialog agama monoteisme dan bantuan Hindu serta Budha” (Satunet 25 February 2000) menyatakan bahwa agama-agama monoteisme Yahudi (Yahudi, Kristen dan Islam) sekalipun mengaku berasal dari sumber yang sama (Abraham) sering terlibat dalam konflik, atau peperangan yang membawa penderitaan panjang bagi umat manusia, karena semangat ekskusifnya yang berlebihan. Disamping itu monoteisme memperkuat arogansi manusia atas alam ciptaan di sekelilingnya dan manusia merasa berhak untuk mengeksploitasi alam secara habis-habisan.

Untuk menutupi keburukan-keburukan ini, Abdullah Maskharah mengharapkan agama-agama Timur seperti Hindu dan Budha menyumbangkan peranan mereka. Karena mereka bersifat inclusif dan pluralis dalam hubungan dengan pemeluk agama-agama lain, dan dalam pandangan Hindu dan Budha, manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam itu sendiri. Karena, “konsep dalam Hindu dan Budha bukanlah manusia DAN alam sebagai dua entitas terpisah, melainkan manusia SERTA alam. Suatu cara berpikir yang sama sekali berbeda. Manusia adalah bagian alam. Bila alam diganggu, diperas habis-habisan maka yang terancam adalah manusia itu sendiri. Di dalam agama Hindu dikenal anjuran agar kebenaran yang maha besar tunduk pada hukum alam. Apa yang disebut sebagai ‘rita’, yakni di mana alam lingkungan diharapkan tetap teratur dan harmonis. Upacara Nyepi pada hakikatnya adalah upacara mengembalikan kehidupan harmonis antara alam dengan manusia.”

Dalam kaitan ini menarik sekali untuk disimak diskusi Dr. Arnold J. Toynbee sejarahwan terkemuka Inggris dan Daisaku Ikeda, pemimpin tertinggi Buddha Soka Gakai Jepang, yang dimuat dalam buku “Choose Life” yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Perjuangkan Hidup” diterbitkan oleh PT Indira, Jakarta tahun 1990.

Paham Ketuhanan dan pengaruhnya terhadap peradaban.

Ekseklusivitas religius merupakan ciri penting dalam sejarah peradaban Barat. Bila seorang berganti agama, memeluk salah satu agama monoteisme rumpun Yahudi, maka ia harus meninggalkan seluruh kepercayaannya sebelumnya. Agama-agama panteisme (Hindu, Buddha dan Shinto) dapat hidup berdampingan dengan agama-agama lain. Penyebarannya tidak membawa gangguan terhadap kesinambungan budaya sebagaimana ditimbulkan oleh penyebaran agama Kristen dan Islam di kawasan sebelah barat India, dan juga di anak benua India tempat Islam telah berhasil memperoleh tempat pijakannya. Di Indonesia, tradisi Hindu-buddha telah sedemikian kuatnya sehingga ajaran Islam terpaksa harus berkompromi dengan kenyataan tersebut.

Karena alasan ini, gangguan terhadap kesinambungan budaya berlangsung ekstrim di India dan Asia Timur ketika – hanya ketika – agama rumpun Yahudi, yang dibawa oleh para agresor Barat modern menimpa kawasan ini dalam bentuk kepercayaan pada ilmu pengetahuan, komunisme dan nasionalisme pasca-Kristen, yang membawa mesiu fanatisme agama Kristen. Nasionalisme adalah suatu versi Kristen dari pemujaan kekuasaan kolektif suatu masyarakat Yunani-Romawi pra Krisrten.

Berbeda dengan peradaban-peradaban di belahan Barat sejak kawasan ini diubah menjadi Kristen dan Islam, budaya-budaya India dan Asia Timur tetap mantap sampai masuknya serbuan agama-agama Barat pasca Kristen. Perbedaan antara budaya India dan Timur di satu pihak dengan budaya Barat di lain pihak disebabkan oleh suatu perbedaan dalam sifat agama mereka masing-masing.

Perbedaan antara monoteisme dan panteisme amat berpengaruh pada peradaban manusia. Dibawah kondisi yang dipaksanakan oleh keimanan monoteistik, suatu kebutuhan yang besar untuk mengaitkan segala sesuatu kepada Tuhan yang Satu, membatasi masyarakat dan peradaban dan mempercepat pengembangan suatu keseragaman yang meliputi segala-galanya, Karenanya hal ini membuat penerimaan unsur-unsur asing menjadi sulit. Bila dihadapkan dengan suatu yang baru dan asing, suatu masyarakat monoteistik harus menjalani peralihan yang bersifat kalah-menang, semua atau tidak sama sekali (all or nothing). Karena alasan ini, perobahan dalam arus sejarah Barat kerap kali bersifat mendasar dan berpengaruh luas. Dalam masyarakat panteistik, sebaliknya, nilai-nilai gagasan-gagasan dan hal-hal asing dapat diterima. Masyarakat bersikap toleran terhadap hal-hal baru itu.

Panteisme dan Monoteisme

Agama-agama rumpun Yahudi telah memusatkan unsur ketuhanan di alam semesta ke dalam diri Tuhan Pencipta yang tunggal, maha kuasa, yang berada di luar universum, dan keterbatasan ihwal ketuhanan ini telah membuat alam semesta, termasuk manusia, kehilangan kesuciannya. Sebaliknya di India dan Asia Timur, sebelum pengaruh Barat modern, seluruh alam semesta dan segala yang ada di dalamnya, termasuk alam non-manusia dan manusia sendiri, memiliki
sifat ketuhanan, dan dengan demikian, di mata manusia, alam memiliki suatu sifat suci dan suatu martabat yang telah mengekang dorongan naluri manusia untuk menurutkan nafsu serakahnya melakukan tindak kekerasan terhadap alam.

Sikap bangsa India dan Asia Timur adalah panteisme, berbeda dengan monoteisme Yahudi. Dalam pandangan panteis, ihwal ketuhanan termaktub immanent) di alam semesta dan mengisi seluruh alam semesta. Dalam pandangan monoteis, ihwal ketuhanan direngutkan dari alam semesta dan dibuat berada di luarnya; berarti ihwal ketuhanan menjadi di luar pengertian dan pengalaman manusia (transcendent).

Kejahatan Monoteisme.

Kaum apologis teologik dan barangkali kaum evolusionis kultural abad 19 semuanya tanpa kritis mengasumsikan bahwa monotheisme sebagai sebuah bentuk keyakinan yang lebih “tinggi” dari pada “politeisme.” Betulkan monoteisme secara philosofi atau metaphysik “superior” terhadap politeisme? Dalam hal apa ia superior? Bila memang ada satu evolusi alamiah dari politeisme ke monoteisme, maka di sana juga ada perkembangan alamiah dari monoteisme ke ateisme? Apakah monoteisme telah ditakdirkan akan digantikan oleh satu bentuk kayakinan baru yang lebih tinggi, yaitu, atheisme–via agnosticisme, mungkin?

Monoteisme tidak lebih tinggi dari politeisme baik secara philosofi atau metafisik, berdasarkan bahwa tidak ada bukti tentang keberadaan satu dan hanya satu Tuhan adalah sah atau benar. Dari sudut sejarah, keyakinan monoteistik sering secara rahasia pada tingkat populer bekerja sebagai “de facto polytheism”, menyimpang dari dogma resmi. Ketahyulan tidak berkurang dalam monoteisme tapi dipusatkan pada satu tuhan dan rasulnya.

Dari sudut sejarah, monoteisme sering kali menunjukkan dirinya sendiri menjadi intoleran secara ganas dan buas, sangat berlawanan dengan politeisme dimana (dalam politeisme) perang-perang agama tidak pernah dilakukan. Intoleransi ini secara logis mengikuti ideologi monotheistik. Monoteisme harus menjawab banyak pertanyaan.Demikian dikatakan oleh Ibn Warraq dalam bukunya “Why I am Not a Muslim?” Gore Vidal mengatakan : kejahatan terbesar yang tak terucapkan pada titik pusat dari kebudayaan kita adalah monotheisme. Dari naskah barbar jaman perunggu yang dikenal sebagai Perjanjian Lama, tiga agama anti-kemanusiaan telah berkembang – Agama Yahudi, Kristen dan Islam. Ketiganya adalah agama dengan Tuhan langit (Sky God). Ketiga (Tuhan) agama ini bersifat patriak-Tuhan adalah Bapa yang maha kuasa-dari sinilah timbulnya kebencian terhadap wanita selama 2,000 tahun di negeri-negeri yang ditimpa penderitaan oleh Tuhan Langit ini dan delegasinya (utusannya) yang semua lelaki. Tuhan langit ini sangat pencemburu. Dia menuntut ketaatan total. Mereka yang menolaknya harus dikonverikan atau dibunuh. Totalitarianisme adalah satu-satunya politik yang dapat melayani tujuan Tuhan Langit ini. Setiap gerakan yang yang bersifar liberal membahayakan kekuasaannya. Satu Tuhan, satu raja, satu nabi, satu paus – satu tuan di pabrik, satu ayah-pemimpin di rumah.

Schopenhauer meminta kita untuk merenungkan “kekejaman-kekejaman yang telah disebabkan oleh agama-agama khususnya Kristen dan Islam dan “penderitaan yang mereka bawa ke dunia ini.” Pikirikan tentang fanatisme, penghukuman yang tiada henti, kemudian perang-perang antar agama, kegilaan berdarah yang tak pernah dibayangkan oleh orang-orang jaman dulu (sebelum kedua agama ini ada). Pikirkan tentang perang salib yang adalah sebuah pembantaian atau penjagalan yang tidak dapat dimaafkan dan yang berlangsung selama 200 tahun, dan teriakan perang mereka : “Ini adalah kehendak Tuhan.” Kekristenan tidak lebih dimaafkan dari pada Islam dalam tuduhan Schopenhauer. Objek dari penjarahan, dll dari perang salib telah menangkap kuburannya yang mengajarkan cinta, toleransi, dan keramah-tamahan. Pikirkan tentang kekejaman dari pengusiran dan pemusnahan orang-orang Moors dan Yahudi dari Spanyol; tentang pertumpahan darah, inquisisi (pengadilan agama yang kejam), dan pengadilan terhadap mereka yang dianggap bidah, menyimpang dari dogma resmi; dan juga tentang penaklukan berdarah dan mengerikan dari kaum Muslim atas tiga benua ….Khususnyajanganlah kita melupakan India…dimana mula-mula kaum Muslim dan kemudian kaum Kristen, secara ganas dan sangat kejam menyerang para pengikut kayakinan manusia yang asli dan suci. Penghancuran yang akan selalu disesalkan, jahat dan kejam dan perusakan kuil-kuil kuno dan citra atau patung yang menunjukkan kepada kita bahkan sampai dewasa ini jejak-jejak dari kemarahan monoteistik (monotheistic fury) dari kaum Muslim yang bermula dari Mahmud dari Ghazni dari kenangan terkutuk sampai Aurangzeb yang melakukan pembunuhan terhadap suku-suku bangsa.

Schopenhauer mengkontraskan catatan sejarah penuh damai dari orang-orang Hindu dan Buddha dengan kekejian dan kekejaman dari kaum monoteis, dan kemudian menyimpulkan :”sesungguhnya, intoleransi adalah esensial hanya pada monoteisme; satu-satunya Tuhan yang secara sifatnya adalah satu Tuhan yang cemburu yang tidak menghendaki yang lain hidup. Pada sisi lain, dewa-dewa dari politeisme secara sifatnya sangat toleran; mereka hidup dan membiarkan yang lain hidup (they live and let live). Pada tempat pertama, mereka dengan gembira memberi toleransi kawan-kawan mereka, para dewa dari agama yang sama, dan toleransi ini kemudian diperluas bahkan kepada para dewa dari agama lain secara sepatutnya, dengan ramah diterima dan kemudian diakui, dalam beberapa kasus, bahkan pada persamaan hak-hak. Satu contoh dari hal ini dapat dilihat dalam agama Romawi yang secara suka rela menerima dan menghormati dewa-dewa dari agama Phrygian, Mesir dan dewa-dewa asing lainnya. Jadi hanya agama-agama monoteistik yang menyuguhkan kita dengan pemandangan tentang perang-perang agama, pembunuhan atas nama agama, pengadilan bagai kaum heretik, dan juga tentang iconoclasme, penghancuran citra atau patung para dewa asing, penghacuran kuil-kuil India dan Kolisi Mesir yang telah memandang matahari selama tiga ribu tahun; semua ini disebabkan oleh karena Tuhan mereka yang cemburu mengatakan : “Kamu tidak akan membuat patung-patung berhala” dan seteruasnya.

Hampir seratus tahun sebelum Schopenhauer [Arthur Schopenhauer 1788 – 1860], Hume [David Hume 1711 – 1776] dengan kejeniusannya seperti biasa melihat kelebihan yang sama dari polytheisme : “politeisme diikuti dengan kelebihan yang nyata, bahwa, dengan membatasi kekuasaan dan fungsi dari para dewa, dia secara alamiah mengakui dewa-dewa dari sekte atau bangsa lain untuk membagi bersama kesucian, dan memberikan kepada semua dewa-dewa itu, baik upacara, persembahan, atau tradisi, secara sama satu sama lain…sementara satu-satunya obyek sesembahan yang diakui oleh kaum monoteis, pemujaan terhadap dewa-dewa lain dianggapnya sebagai sebagai absurd dan tidak saleh. Bukan, penyatuan obyek ini tampak secara alamiah menuntut kesatuan dari keyakinan dan upacara, dan melengkapi manusia yang berkomplot dengan satu dalih untuk menyatakan musuh-musuh mereka sebagai profan, dan subyek dari kesucian dan juga pembalasan dendam. Sebab masing-masing pemeluk agama ini yakin bahwa kepercayaan dan cara pemujaan mereka sendiri yang benar sepenuhnya diterima oleh Dewa mereka, dan karena tidak ada seorang dapat membayangkan bahwa mahluk yang sama harus dipuaskan dengan upacara dan prinsip yang sama dan berbeda; beberapa agama itu secara alamiah jatuh kedalam permusuhan , dan saling menyerang satu sama lain, gairah dan kebencian agama, yang sangat ganas dan tak terdamaikan dari seluruh nafsu manusia.

Sementara toleransi dari politeisme baik pada jaman dahulu maupun pada jaman modern dewasa ini, sangat nyata bagi setiap orang, bahkan bagi yang paling sedikit mengenal tulisan para sejarahwan dan para pelancong….Intoleransi dari seluruh agama, yang telah memelihara kesatuan Tuhan, adalah sama jelas dan sama berbedanya dalam prinsip politeisme. Jiwa sempit dan tak terdamaikan dari agama Yahudi sudah sangat dikenal. Islam mulai dengan prinsip-prinsip yang lebih berdarah, dan bahkan sampai dewasa ini, mengutuk semua agama lain, melalui api dan kayu bakarSetiap gereja atau agama nasional mengukuhkan dirinya sendiri dengan dalih atau berpura-pura membawa misi dari Tuhan, disampaikan kepada orang-orang tertentu. Orang Yahudi memiliki Moses mereka; orang Kristen Jesus Kristus mereka, para rasul dan para santo mereka; dan orang Turki Mohamad mereka, seolah-olah jalan ke pada Tuhan tidak terbuka secara sama bagi setiap orang. Masing-masing dari agama itu menunjukkan buku-buku tertentu, yang mereka nyatakan sebagai wahyu, atau Kata Tuhan. Orang Yahudi bilang Kata Tuhan mereka diberikan oleh Tuhan kepada Moses, secara bertatap muka, orang Kristen bilang Kata dari Tuhan mereka datang sebagai inspirasi suci; dan orang Turki bilang Kata dari Tuhan mereka (Koran) dibawa oleh seorang malaikat dari surga. Masing-masing dari agama-agama itu menuduh yang lain sebagai kafir; dan pada bagianku sendiri, aku tidak mempercayai semuanya. Kata Thomas Paine, dalam bukunya The Age of Reason.

Kembali ke Panteisme

Melihat penderitaan yang telah ditimbulkan serta potensi bahaya yang masing dikandung oleh monoteisme, Prof. Toynbee mengajak kita sekarang dengan segera memantapkan kembali hubungan antara manusia dengan manusia tanpa memandang perbedaan keyakinan, dan juga hubungan menusia dengan alam, yang telah diganggu oleh adanya revolusi Industri. Jalan bagi revolusi teknologi dan ekonomi telah dibuka dengan suatu revolusi religius sebelumnya di Barat. Revolusi religius ini adalah digantikannya panteisme dengan monoteisme. “Saya percaya,” kata Toynbee, bahwa umat manusia perlu beralih kembali kepada panteisme. Kita perlu menemukan kembali rasa hormat dan pertimbangan kita semua bagi martabat alam. Kita membutuhkan apa yang kita sebut sebagai agama yang tepat untuk membantu kita melakukan hal ini.” “Suatu agama yang tepat,” kata Toynbee lagi, “adalah agama yang mengajarkan rasa hormat bagi martabat dan kesucian seluruh alam termasuk manusia. Agama yang salah adalah agama yang memberikan hak untuk menurutkan keserakahan manusia dengan mengorbankan alam (termasuk manusia sesamanya).” “Saya berkesimpulan, ” lanjut Toynbee, “bahwa agama yang harus kita anut sekarang adalah panteisme. Dan agama yang perlu kita tinggalkan sekarang adalah monoteisme dan kepercayaan pada kemajuan ilmu pengetahuan yang tidak berketuhanan, yang mewarisi keyakinan dari ajaran Kristen bahwa umat manusia secara moral memiliki hak untuk memanfaatkan seluruh alam semesta guna menurutkan nafsu serakahnya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s