Berhala

I. Patung
A) Sejarah singkat:

Pada awal abad ke-4 banyak orang kafir (menurut definisi Kristen) masuk ke gereja karena Constantine menjadikan Kristen sebagai agama seluruh kekaisaran Romawi.
Pada awal abad ke-7 Paus Gregorius Agung (590-604) secara resmi menyetujui penggunaan patung-patung dalam gereja tetapi tidak untuk disembah.

Pada abad ke-8 doa mulai ditujukan kepada patung-patung.

Pada tahun 725 / 726 Kaisar Leo III menentang penggunaan patung- patung. Terjadi perdebatan soal patung sampai tahun 787 dimana Konsili Nicea memutuskan bahwa penyembahan/ pemujaan patung-patung dan gambar-gambar diijinkan.
Thomas Aquinas (1225-1274) mempertahankan penggunaan patung karena dianggap penting untuk orang-orang yang buta huruf.

Konsili Trent memutuskan:
“The images of Christ and the Virgin mother of God, and of the other saints, are to be had and to be kept, especially in churches, and due honor and veneration are to be given them”
( Patung-patung Kristus dan Bunda Perawan dari Allah dan orang-orang suci yang lain harus dimiliki dan dijaga/ dipelihara, khususnya di gereja-gereja, dan hormat dan pemujaan yang seharusnya/ selayaknya harus diberikan kepada mereka)
– Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 279.

B) Dasar penggunaan patung:

Pada abad ke-4 itu kebanyakan orang tidak bisa membaca. Jadi dibutuhkan benda-benda yang yang bisa dilihat untuk mewakili orang-orang/ tokoh-tokoh Kitab Suci.
Argumentasi ini dipertahankan oleh Thomas Aquinas (1223-1274), dengan argumen bahwa Tuhan juga menyuruh Musa membuat patung kerub di Ruang Maha Suci (Kel 25:10-21). Tuhan menyuruh Musa membuat patung ular (Bil 21:4-9).
Pertanyaannya adalah, apakah di dalam kedua kitab itu diajarkan bahwa patung kerub sebagai malaikat penjaga dan patung ular tembaga yang ditaruh di atas palang kayu yang menyembuhkan itu untuk disembah? Gereja Katholik tidak berani menjawab pertanyaan ini secara tegas dan berdalih di belakang upaya mempertahankan tradisi “suci”.

C) Teori dan praktek penggunaan patung:

1) Teori:
Bukan patung yang disembah tetapi orang / roh yang diwakili oleh patung itu.

2) Praktek:
Banyak orang yang tidak mengerti perbedaan antara patung dan orang/ roh yang diwakili oleh patung. Pimpinan-pimpinan gereja Katholik menempatkan diri mereka sebagai kalangan elit yang dekat dengan kalangan istana/ bangsawan, membentuk komunitas terpelajar dan rohani. Keekslusifannya sedemikian rupa sampai penyebaran pengetahuan (umum dan kerohanian) tidak disebarluaskan. Sikap ini masih terus bertahan sampai komunitas pimpinan-pimpinan gereja Katholik dunia saat ini.

Di masa pengenalan patung-patung oleh para pemimpin gereja katholik, orang-orang yang tidak berpendidikan dan anak-anak kecil tidak memahaminya. Akibatnya mereka betul-betul menyembah patung-patung itu, karena tidak digembalakan dengan benar. Para pemimpin gereja Katholik menempatkan dirinya sebagai pemimpin berdasar struktur organisasi, bukan sebagai pemimpin rohani yang melayani sebagai gembala bagi para dombanya. Struktur organisasi yang sedmeikian njlimet, dari seorang father (Romo), ke cardinal (kardinal) dan bishop (uskup) sampai Pope (Paus), betul-betul menjadi lapisan benteng-benteng yang sukar ditembus, bahkan oleh umat yang sebenarnya membutuhkan.

Semenjak itu, patung-patung ditempatkan di gereja, rumah sakit, rumah sekolah, mobil dsb. Sampai hari ini, masih terdapat praktik-praktik pemujaan dan penyembahan patung yang cenderung rentan mengarah ke okultisme (Jw. Klenik ). Di beberapa negara seperti Brasil, patung-patung itu disembah, dicium, diberi menyan, didoai, dibawa dalam arak-arakan.

D) Sanggahan Kristen Protestan dan gereja modern pada umumnya:

1) Keluaran 20:4-5, Imamat 26:1, 1Yohanes 5:21, 2 Korintus 6:16 dengan jelas
mengecam penyembahan berhala.

2) Orang-orang Katolik menghapuskan hukum ke II (tentang larangan membuat dan
menyembah patung) dari 10 hukum Tuhan versi mereka.

Kalau merasa bahwa penggunaan patung itu bukan untuk penyembahan berhala,
mengapa mereka menghapuskan hukum ke II itu?

3) Sekalipun secara teoritis orang-orang Katolik menyembah orang/ roh yang diwakili oleh patung, ini tetap salah karena:

a) Kita hanya boleh menyembah Allah (Matius 4:10).
Malaikat dan rasul-rasul menolak penyembahan (Wahyu 19:10, Wahyu 22:8-9
Kisah Para Rasul 10:25-26, Kisah para Rasul 14:10-18), dan Herodes dibunuh
oleh Allah karena menerima penghormatan ilahi (Kis 12:20-23) – Herodes
menerima penghormatan seolah dia Tuhan. Akibatnya adalah : kematian.

Memang doktrin Katolik membedakan 3 macam penyembahan:

LATRIA – penyembahan kepada Allah.
DULIA – penyembahan kepada malaikat dan orang-orang suci.
HYPER DULIA – penyembahan kepada Maria

Tetapi, dalam kenyataannya jarang orang Katolik yang mengerti hal ini, sehingga apa yang mereka lakukan terhadap Allah, Maria, orang-orang suci dan malaikat persis sama, sehingga mereka merasa tidak perlu membedakan penyembahan menjadi 3 macam seperti itu. Akibatnya, penghormatan kepada Maria, kepada orang suci, adalah sama saja dengan pengormatan kepada Allah.

b) Penyembahan kepada Allah atau Yesus melalui patung tetap dilarang oleh Kitab Suci.

Keluaran 20:4-5 (hukum ke II dari 10 Perintah Allah).

Hukum I (Keluaran 20:3) menekankan bahwa :
– obyek / tujuan penyembahan haruslah benar, yaitu Allah sendiri,
– hukum ke II (Kel 20:4-5) menekankan bahwa caranya harus benar (tidak boleh melalui patung).

Karena itu kalau orang yang menyembah Allah (tujuannya benar), tetapi melalui
patung (caranya salah), itu tetap dosa!

Keluaran 32.
Israel menyembah anak lembu emas, tetapi perhatikan Keluaran 32:5 dimana Harun berkata: ‘Besok hari raya bagi TUHAN’. Jadi mereka pun menyembah Tuhan, dengan perantaraan anak lembu emas itu. Tetapi ini tetap dianggap oleh Tuhan sebagai dosa.

4) Patung kerub (Keluaran 25:10-21) dan ular tembaga (Bilangan 21:4-9) tidak diberikan / dibuat untuk disembah!
Kenyataan yang bisa kita lihat di dalam Alkitab, patung ular tembaga akhirnya disembah sehingga dihancurkan oleh raja Hizkia (2 Raja-raja 18:4).

5) Loraine Boettner menuliskan:

“But how very foolish is the practice of idolatery
For life man prays to that which is dead
For health he prays to that which has no health or strength
For a good journey he prays to that which can not move a foot
For skill and good succes he prays to that which can not do anything
For wisdom and guidance and blessing he commits himself to a senseless piece of wood or stone”

Terjemahannya adalah sebagai berikut:
“Tetapi betapa bodohnya praktek penyembahan berhala
Untuk hidup, manusia berdoa kepada sesuatu yang mati
Untuk kesehatan ia berdoa kepada sesuatu yang tidak mempunyai kesehatan atau kekuatan .
Untuk perjalanan yang baik ia berdoa kepada sesuatu yang tidak bisa menggerakkan kaki
Untuk keahlian dan keberhasilan yang baik ia berdoa kepada sesuatu yang tidak dapat melakukan apapun
Untuk hikmat dan pimpinan dan berkat ia menyerahkan dirinya sendiri kepada sepotong kayu atau batu yang tidak mempunyai pikiran”.
(dari buku ‘Roman Catholicism’, hal 282)

II. Simbol salib
Simbol salib baru mulai ada tahun 312. Pada tahun itu Constantine berperang di Eropa Barat.
Alkisah tradisi menyebitkan bahwa pada waktu itu ia berdoa kepada dewa-dewa kafir tetapi tidak ada jawaban. Lalu ia melihat di langit suatu cahaya berbentuk salib dengan tulisan bahasa Latin “IN HOC SIGNO VINCES” (= In this sign conquer / Dengan tanda ini kalahkanlah).
Setelah itu ia menyeberang ke Italia dan menang. Lalu ia menganggap bahwa tanda itu datang dari Tuhan dan sejak saat itu ia menggunakan bendera dengan tanda salib setiap kali ia berperang.

Tidak ada bukti (ilmiah maupun historis-religius yang membenarkan tradisi ini.)

Tidak diketahui dengan pasti apakah Constantine adalah orang Kristen yang sungguh-sungguh/ taat atau tidak (ia tidak mau dibaptis sampai ia hampir mati pada tahun 337).

Ketergantungan pada benda fisik/ benda wadhat yang dianggap memilik kekuatan seperti ini berangsur masuk di kalangan ksatria-ksatria dan bangsawan-bangsawan kerajaan (ada tradisi para bangsawan berkumpul dalamm pesta-pesta setelah kemengan suatu peperangan; dalam acara seperti itu para ksatria bercerita tentang pengalaman-pengalaman medan perang).
Organisasi gereja yang melekat pada kepemimpinan kerajaanpun mengembangkan ajaran baru tentang penggunaan salib, dengan segala peraturan dan kewajiban melaksanakannya bagi seluruh rakyat.
Karena peraturannya dibuat, dikeluarkan oleh lembaga otoritas (kerajaan maupun Gereja, akibatnya orang terbawa untuk percaya bahwa peraturan atau ajaran ini benar.
Dalam Alkitab, disebutkan salib sebagai pralambang perjuangan, kesederhanaan sampai kemenangan. Akan tetapi, aspek manfaatnya lebih pada falsafah bagaimana salib menjadi penyemangat dan penguat (misal, memikul salib – ketaatan, kerelaan ). Namun, jelas-jelas tidak diajarkan dalam Alkitab bahwa salib untuk disembah!
Dalam tradisi masa Paskah di lingkungan gereja tradisional seperti Gereja Katholik Roma, ada kebiasaan umat diminta mencium salib (crucifix), atau kaki patung Yesus di salib itu.
Di lingkungan gereja tradisi yang sudah mulai berkembang modern (seperti gereja Anglikan Inggris), penyembahan seperti tradisi cium salib seperti itu justru dinilai sebagai praktik yang berbudaya rendah, karena harus melibatkan kontak fisik (ciuman bibir kepada salib). Mereka menganggap tidak perlu melakukan ritual seperti itu, dengan argumen bahwa worship (pemujaan) yang bersifat batin (mental worship)yang sesungguhnya adalah hal yang profound (mendalam). Sehingga, doa dan hati yang mengarah kepada simbol dan arti salib Kristus, lebih berharga daripada kegiatan fisik yang berupa: berlutut di depan salib berpatung, lalu menciumnya.
Istilah “budaya rendah” untuk menyebut praktik oleh gereja Katholik ini dianggap sama dengan masa-masa sebelum manusia berbudaya; yakni seperti zaman purba ketika orang masih menyembah benda-benda fisik di alam seperti matahari, guntur, angin, pohon dan batu besar.
Oleh karena itu, gereja-gereja modern sangat memprihatinkan jemaat yang terbawa oleh pengajaran yang rentan terhadap penyimpangan dan intimidasi dari kuasa-kuasa lain di luar kuasa Tuhan Yesus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s